Langsung ke konten utama

Menjadi Minimalis

"Kerja selama ini gaji kemana? Kok tabungan segitu-gitu aja?"  "Banyak baju bukanya dikurangi malah beli lemari lagi, terus kalau rumah penuh dengan lemari gimana?" "Sampai kapan jadi bagian penyumbang sampah terbesar?" "Kapan mau jadi manusia yang bergunanya?" "Gak malu sama Tuhan?"  Memilih hidup minimalis bukan tanpa alasan, ide pertama muncul saat otak mulai keruh, sejak saat itu mulailah mencari tahu tentang apa itu seni minimalism dan mulai berfikir untuk mencobanya, dan akhirnya tidak terasa kini sudah delapan bulan sejak memutuskan untuk merubah gaya hidup dan memilih untuk menjalani hidup minimalis. Esensi dari gaya hidup minimalis adalah meninggalkan sikap boros dan berlebihan untuk hidup yang lebih simpel namun berkualitas dan tentunya lebih happy. Seringnya berpindah tempat tinggal, jika diingat lagi diusia yang sudah 25 tahun ini terhitung sudah 8 kali berpindah rumah dari kota satu ke kota lain untuk melanjutkan pendidi...

Menjadi Minimalis

"Kerja selama ini gaji kemana? Kok tabungan segitu-gitu aja?" 

"Banyak baju bukanya dikurangi malah beli lemari lagi, terus kalau rumah penuh dengan lemari gimana?"

"Sampai kapan jadi bagian penyumbang sampah terbesar?"

"Kapan mau jadi manusia yang bergunanya?"

"Gak malu sama Tuhan?" 

Memilih hidup minimalis bukan tanpa alasan, ide pertama muncul saat otak mulai keruh, sejak saat itu mulailah mencari tahu tentang apa itu seni minimalism dan mulai berfikir untuk mencobanya, dan akhirnya tidak terasa kini sudah delapan bulan sejak memutuskan untuk merubah gaya hidup dan memilih untuk menjalani hidup minimalis.

Esensi dari gaya hidup minimalis adalah meninggalkan sikap boros dan berlebihan untuk hidup yang lebih simpel namun berkualitas dan tentunya lebih happy.

Seringnya berpindah tempat tinggal, jika diingat lagi diusia yang sudah 25 tahun ini terhitung sudah 8 kali berpindah rumah dari kota satu ke kota lain untuk melanjutkan pendidikan ataupun mengikuti orangtua bahkan saat belum lahir pun orang tua berpindah-pindah mungkin sudah terhitung puluhan kali.

Dalam proses ini menemukan bahwa saya mempunyai banyak sekali barang yang kurang bermanfaat, barang yang tidak digunakan selama berbulan-bulan bahkan hingga bertahun-tahun dengan alasan kenangan masa lalu, koleksi dan hadiah dari teman ataupun kerabat, sampai barang yang didapat dari beli satu gratis satu. Barang yang sebenarnya tanpanya pun saya masih baik-baik saja. 

Jika suatu barang dianggap sebagai kenang-kenangan  bahkan hanya tersimpan dilemari dan tidak pernah dibuka ataupun digunakan dan bahkan terlupakan, lantas apa gunanya?

Alangkah lebih baik jika mempunyai barang yang bisa dimaksimalkan fungsinya, karena seharusnya mereka ada untuk memudahkan hidup, bukan sebaliknya. Memiliki gaya hidup yang tidak berlebihan, semua kembali kepada kebutuhan dasar tidak menjadi seseorang yang konsumtif, sejujurnya dengan jumlah barang terbatas secara physically, saya jadi punya lebih banyak ruang secara mental untuk mengatur hidup. Less clutter, more room to grow.

Membuka mata untuk memisahkan mana benda-benda yang diperlukan mana yang tidak. Hanya memiliki pakaian yang bisa dihitung dengan jari, memilih warna yang mudah untuk dipadu-padankan, memiliki satu heals, satu slip on dan satu sneakers rasanya sudah cukup. 

Memulai pola hidup minimalis ini bukanlah perkara mudah, karena harus membiasakan dengan hal-hal baru, yang paling sulit yaitu keputusan hidup hanya dengan barang yang benar-benar dibutuhkan. 

Sebelumnya saat akhir pekan sibuk mengagendakan perjalanan bersama ataupun hanya duduk di coffee shop melihat orang bersliweran dari balik jendela kaca, kini saya memilih untuk lebih produktif dirumah, tidak selalu mengiyakan semua ajakan teman.

Jika biasanya berkeliling ke semua lorong supermarket hanya untuk membeli pasta gigi, saya mulai menuju tempat yang sudah disediakan tanpa harus melihat sekeliling guna meminimalisir untuk membeli barang lainya hanya karena mereka terlihat lucu yang sejatinya tidak saya perlukan, membiasakan diri untuk belanja seperlunya sekaligus tidak membuang waktu untuk hal yang kurang bermanfaat. 

Dahulu definisi liburan bagi saya adalah pergi keluar kota berwisata pulang membawa oleh-oleh, saat ini definisi liburan telah berubah menjadi rebahan dirumah, mengerjakan pekerjaan rumah, journaling, bermain dengan kucing tetangga, dan lain sebagainya.

Menjalankan hidup minimalis adalah sebuah proses untuk kembali menjadi diri sendiri yang sebenarnya, lebih mindful. Memulai dengan hal-hal kecil yang ternyata dampaknya begitu besar.

Manusia merasa sulit bersyukur karena mereka selalu menginginkan lebih. Namun, saya sudah diberikan semua yang saya butuhkan, kesederhanaan adalah berkah. Maka, tidak ada alasan yang membuat saya tidak bersyukur. 

Hidup minimalis berarti melepaskan keinginan terhadap apa yang sebenarnya tidak dibutuhkan. Minimalis berarti mempunyai kendali terhadap diri sendiri. Menjadi minimalis bukanlah tujuan, tapi sebuah jalan menuju kebebasan yang sejati yang akan membuat hidup lebih berarti. Love myself, Love yourself :)


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perbaiki Apa Yang Salah

Hidup memang tak selalu mengalami kesedihan, seiring dengan berjalannya waktu, kesedihan akan berubah menjadi kebahagiaan. Tentu untuk merasa bahagia terlebih dahulu kita harus melewati masa-masa sulit. Hal ini lah yang membuat masa bahagia kita akan semakin bermakna dalam. *** Ada banyak sekali alasan mengapa seseorang merasa bersedih. Mungkin karena putus hubungan, ditinggal orang tersayang, perpisahan, kehilangan, kegagalan dan masih banyak alasan lainnya. Seolah tak bisa berkutik dan bingung harus melangkahkan kaki kemana. Perasaan galau ini secara tidak langsung akan membuat hati kita merasa tidak tenang dan tentram, karena terus menerus mencari jawaban yang bahkan kita sendiri sama sekali tidak tahu apa sih pertanyaannya. *** Perasaan sedih membuat seseorang lebih manusiawi, namun jika kesedihan ini berlangsung lama tentu tidak akan baik, seringkali kita tak bisa mengubah keadaan, tetapi kita bisa mengubah persepsi kita tentang keadaan tersebut, jika kamu tak bahagia...

Kabar Dipenghujung Bulan Lima

Pagi ini terdengar nada nyaring dari telepon genggamku, kudapati pemberitahuan masuk dikotak pesan e-mailku. Seperti hari-hari biasanya, a ku harus bangun pagi-pagi melanjutkan lagi hidup yang memang harus dilanjutkan. Tidak lolos dalam penerima beasiswa untuk kedua kalinya tak apa, mungkin memang bukan jalannya. Kegagalan sudah sangat sering dialami dan kini aku mulai terbiasa. Cukup sering penolakan dalam hidup menghampiri, namun mimpiku tak mempunyai tanggal kadaluwarsa, ambil nafas dalam-dalam dan coba lagi. Ku bicara dalam hati menguatkan diri. Aku bisa berhenti jika berat, aku bisa berhenti kapan saja, jadi jangan berhenti hari ini, hari ini aku harus melangkah lagi. Goethe berkata "Pertahankan impianmu dan kesempatan akan datang mewujudkannya", dan aku percaya itu.