Langsung ke konten utama

Menjadi Minimalis

"Kerja selama ini gaji kemana? Kok tabungan segitu-gitu aja?"  "Banyak baju bukanya dikurangi malah beli lemari lagi, terus kalau rumah penuh dengan lemari gimana?" "Sampai kapan jadi bagian penyumbang sampah terbesar?" "Kapan mau jadi manusia yang bergunanya?" "Gak malu sama Tuhan?"  Memilih hidup minimalis bukan tanpa alasan, ide pertama muncul saat otak mulai keruh, sejak saat itu mulailah mencari tahu tentang apa itu seni minimalism dan mulai berfikir untuk mencobanya, dan akhirnya tidak terasa kini sudah delapan bulan sejak memutuskan untuk merubah gaya hidup dan memilih untuk menjalani hidup minimalis. Esensi dari gaya hidup minimalis adalah meninggalkan sikap boros dan berlebihan untuk hidup yang lebih simpel namun berkualitas dan tentunya lebih happy. Seringnya berpindah tempat tinggal, jika diingat lagi diusia yang sudah 25 tahun ini terhitung sudah 8 kali berpindah rumah dari kota satu ke kota lain untuk melanjutkan pendidi...

Jangan keseringan Ngatur Hidup Orang Lain


Udah lama gak nulis karena keriwehan kuliah yang sempet bikin saya sedikit stress, dikarenakan saya sekarang jadi mahasiswa tingkat akhir yang dipusingkan dengan tugas akhir saya yakni skripsi jahanam dan bimbingan yang tak kunjung usai but it's good lah ya.. lagian ini semua juga demi masa depan kan jadi yaudah jalanin aja dengan penuh rasa syukur. Disini saya enggak akan membahas panjang lebar tentang suka duka saya sebagai mahasiswa akhir 
***
Disini saya akan bahas tentang kehidupan keseharian yang seharusnya enggak di atur-atur oleh orang lain, pasti sebagian besar dari kalian ada yang pernah hidupnya tuh diatur atau malah mengatur kehidupan orang, dalam arti kita mau gak mau harus ikut kemauan apa aja yang menurut orang lain baik untuk diri kita padahal itu belum tentu pas dihati kita dan orang tersebut menutupinya dengan kata-kata "ini yang terbaik untuk kamu" "aku lebih tau dari kamu jadi ikutin aja" "pengalaman aku lebih banyak dari kamu" dan bla bla.. masih banyak lagi., mulai dari yang sok tau yang terbaik untuk kita, ngatur apa yang harus kita pakai, apa yang harus kita beli, apa yang harus kita lakuin, helloooo.. saya hidup bukan untuk menuhin keinginan kamu ya. it's ok kalau dia orang tua kita itu juga masih dalam keadaan yang wajar, tapi kalo orang lain itu udah lain ceritanya.
***
Sejujurnya menurut saya yang menentukan baik tidaknya untuk diri kita itu ya kita sendiri yang lebih tau, kebanyakan orang itu cuman nyinyir dibelakang, orang-orang model kaya begini nih enaknya dibuang kelaut didoain biar sadar kalau semua orang itu punya kehidupan masing-masing yang enggak  seharusnya kita ikut campur tangan, boleeeeh..hanya sekedar memberi nasehat itupun dalam batas yang wajar. Jangan lantas menjadikan seseorang tidak percaya diri dengan apa yang mereka kenakan, mereka lakukan dan putuskan cuman gara-gara kita ikut campur sok nasehatin yang terbaik padahal mah bikin seseorang down yang ujung-ujung jadi merasa serba salah. Setiap manusia punya hati, setiap manusia punya otak, punya sel-sel neuron yang bekerjannya luar biasa, jadi janganlah main sembarangan mengatur hidup orang lain, hidup sendiri aja rumit nya udah naudzubillah ini masih sempet-sempetnya nyinyirin kehidupan orang lain, banyak nih orang yang model kaya begini nyinyir doang bisanya.
***
Ada batas-batas yang harus kita jaga batas korea selatan sama utara yang enggak boleh dilewatin dalam menjalin hubungan pertemanan, persahabatan ataupun persaudaraan, setiap orang itu punya cara sendiri kok dan mereka tuh tau apa yang sesuai untuk diri mereka. Jangan lantas  kita men-judge seseorang hanya dikarenakan orang tersebut tidak seide dan sepaham dengan kita.
***
Dan entah apakah tulisan ini akan mengubah sedikit situasi kita sekarang ataupun hanya akan jadi another post yang hanya membicarakan tentang kehidupan sehari-hari aja, saya berharap semoga kita semua bisa lebih bijak lagi dalam menilai ataupun memandang kehidupan orang lain.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perbaiki Apa Yang Salah

Hidup memang tak selalu mengalami kesedihan, seiring dengan berjalannya waktu, kesedihan akan berubah menjadi kebahagiaan. Tentu untuk merasa bahagia terlebih dahulu kita harus melewati masa-masa sulit. Hal ini lah yang membuat masa bahagia kita akan semakin bermakna dalam. *** Ada banyak sekali alasan mengapa seseorang merasa bersedih. Mungkin karena putus hubungan, ditinggal orang tersayang, perpisahan, kehilangan, kegagalan dan masih banyak alasan lainnya. Seolah tak bisa berkutik dan bingung harus melangkahkan kaki kemana. Perasaan galau ini secara tidak langsung akan membuat hati kita merasa tidak tenang dan tentram, karena terus menerus mencari jawaban yang bahkan kita sendiri sama sekali tidak tahu apa sih pertanyaannya. *** Perasaan sedih membuat seseorang lebih manusiawi, namun jika kesedihan ini berlangsung lama tentu tidak akan baik, seringkali kita tak bisa mengubah keadaan, tetapi kita bisa mengubah persepsi kita tentang keadaan tersebut, jika kamu tak bahagia...

Menjadi Minimalis

"Kerja selama ini gaji kemana? Kok tabungan segitu-gitu aja?"  "Banyak baju bukanya dikurangi malah beli lemari lagi, terus kalau rumah penuh dengan lemari gimana?" "Sampai kapan jadi bagian penyumbang sampah terbesar?" "Kapan mau jadi manusia yang bergunanya?" "Gak malu sama Tuhan?"  Memilih hidup minimalis bukan tanpa alasan, ide pertama muncul saat otak mulai keruh, sejak saat itu mulailah mencari tahu tentang apa itu seni minimalism dan mulai berfikir untuk mencobanya, dan akhirnya tidak terasa kini sudah delapan bulan sejak memutuskan untuk merubah gaya hidup dan memilih untuk menjalani hidup minimalis. Esensi dari gaya hidup minimalis adalah meninggalkan sikap boros dan berlebihan untuk hidup yang lebih simpel namun berkualitas dan tentunya lebih happy. Seringnya berpindah tempat tinggal, jika diingat lagi diusia yang sudah 25 tahun ini terhitung sudah 8 kali berpindah rumah dari kota satu ke kota lain untuk melanjutkan pendidi...

Kabar Dipenghujung Bulan Lima

Pagi ini terdengar nada nyaring dari telepon genggamku, kudapati pemberitahuan masuk dikotak pesan e-mailku. Seperti hari-hari biasanya, a ku harus bangun pagi-pagi melanjutkan lagi hidup yang memang harus dilanjutkan. Tidak lolos dalam penerima beasiswa untuk kedua kalinya tak apa, mungkin memang bukan jalannya. Kegagalan sudah sangat sering dialami dan kini aku mulai terbiasa. Cukup sering penolakan dalam hidup menghampiri, namun mimpiku tak mempunyai tanggal kadaluwarsa, ambil nafas dalam-dalam dan coba lagi. Ku bicara dalam hati menguatkan diri. Aku bisa berhenti jika berat, aku bisa berhenti kapan saja, jadi jangan berhenti hari ini, hari ini aku harus melangkah lagi. Goethe berkata "Pertahankan impianmu dan kesempatan akan datang mewujudkannya", dan aku percaya itu.