"Kerja selama ini gaji kemana? Kok tabungan segitu-gitu aja?" "Banyak baju bukanya dikurangi malah beli lemari lagi, terus kalau rumah penuh dengan lemari gimana?" "Sampai kapan jadi bagian penyumbang sampah terbesar?" "Kapan mau jadi manusia yang bergunanya?" "Gak malu sama Tuhan?" Memilih hidup minimalis bukan tanpa alasan, ide pertama muncul saat otak mulai keruh, sejak saat itu mulailah mencari tahu tentang apa itu seni minimalism dan mulai berfikir untuk mencobanya, dan akhirnya tidak terasa kini sudah delapan bulan sejak memutuskan untuk merubah gaya hidup dan memilih untuk menjalani hidup minimalis. Esensi dari gaya hidup minimalis adalah meninggalkan sikap boros dan berlebihan untuk hidup yang lebih simpel namun berkualitas dan tentunya lebih happy. Seringnya berpindah tempat tinggal, jika diingat lagi diusia yang sudah 25 tahun ini terhitung sudah 8 kali berpindah rumah dari kota satu ke kota lain untuk melanjutkan pendidi...
Bintang tak kan pernah menyangka bila ia ditakdirkan untuk menemani bulan, seperti itulah aku yang tak pernah bermimpi mengenalmu
Saat hujan turun dengan riang gembira kita menyambutnya, bermain-main bersama dalam dinginnya hujan yang mengguyur dunia, tanpa terasa disitu kita memulai cerita
Di bawah pohon beringin sebagai payung, silih berganti mengayuh dan mendorong sepeda kecil berwarna jeruk mandarin
Seolah ini semua kebohongan, kita ukir kisah demi kisah di hari-hari yang kita lalui bersama
Mengenang masa indah ini, hanya mengingatnya saja tak kan ada raguku menarik ujung-ujung bibirku
Waktu terus berlalu
Cerita kita semakin diburu oleh waktu
Sesekali kau singgah dirumahku, meninggalkan aroma vanila disetiap sudut ruangku yang keluar dari gerakmu
Aku memang bukan pendengar dan penghayat cerita yang baik, apalagi memberi penjelasan rumitnya cerita itu, Tapi setidaknya... tak lepas statusku menjadi tempat pembuangan terakhir cerita-ceritamu
Ku tak memaksamu menganggapku sahabatmu
Yang ku tahu kau sahabat bagiku
Dalam sendiri, aku menawarkan dirimu persaudaraan sejati, Dengan demikian kita tak kan terpisahkan
Ku percaya esok akan kembali duduk bersama saling bertukar cerita
Seperti bulan mengumpulkan cahaya menjadi purnama
Kau sahabatku
Kau tetangga terdekatku
Kau saudara perempuan untukku
Kaulah pohon rindang dengan seribu dahan bagiku
Yang memayungi dari terik matahari yang tak tertahankan
Hingga mampu memberikan keteduhan dalam kedamaian
Untuk sahabatku Ismi Hanifah
Komentar
Posting Komentar