"Kerja selama ini gaji kemana? Kok tabungan segitu-gitu aja?" "Banyak baju bukanya dikurangi malah beli lemari lagi, terus kalau rumah penuh dengan lemari gimana?" "Sampai kapan jadi bagian penyumbang sampah terbesar?" "Kapan mau jadi manusia yang bergunanya?" "Gak malu sama Tuhan?" Memilih hidup minimalis bukan tanpa alasan, ide pertama muncul saat otak mulai keruh, sejak saat itu mulailah mencari tahu tentang apa itu seni minimalism dan mulai berfikir untuk mencobanya, dan akhirnya tidak terasa kini sudah delapan bulan sejak memutuskan untuk merubah gaya hidup dan memilih untuk menjalani hidup minimalis. Esensi dari gaya hidup minimalis adalah meninggalkan sikap boros dan berlebihan untuk hidup yang lebih simpel namun berkualitas dan tentunya lebih happy. Seringnya berpindah tempat tinggal, jika diingat lagi diusia yang sudah 25 tahun ini terhitung sudah 8 kali berpindah rumah dari kota satu ke kota lain untuk melanjutkan pendidi...
Keluarga tempat kita bermula, rumah yang selayaknya tetap kita pulangi, tempat yang paling kamu percaya untuk menunjukan siapa kamu, tempat yang paling membuatmu nyaman untuk jadi diri kamu sendiri, tanpa tekanan, tanpa paksaan, bebas, sesuka kamu. Tempat dimana kita selalu dipercaya saat dunia tak lagi mempercayai.
***
Seberapapun besarnya masalah kita dengan keluarga tak akan pernah menghapus tali serta hubungan darah yang melekat pada kita dengan keluarga. Betapa banyak orang yang berdekatan tapi tak saling terikat. Betapa banyak orang yang pulang kerumah setiap hari tapi tak benar-benar pulang. Pulang adalah kamu benar-benar ada untuk orang-orang yang kamu sayangi, hati dan pikiranmu ada bersamanya, sebagaimana hati mereka selalu punya ruang untukmu kembali.
***
Rumah kata yang mempunyai banyak arti, ada yang mendefinisikan rumahku istanaku, tempat tinggal, tempat dibesarkan. Namun rumah dalam pandanganku lebih dari itu, rumah bangunan yang tak begitu luas namun cukup, bukan hanya tempat tinggal namun juga saksi bisu pertumbuhan. Saat ingatanku melayang mengingat bangunan sederhana dimana seluruh cinta dari keluarga tersimpan, hangatnya selalu terbawa hingga jauh.
***
Saat merindukan rumah, nyatanya wajah keluarga akan selalu sepaket dengan bayangan tentang rumah. Ibu dengan sinetronnya yang mengaharu biru, bapak dengan bolanya setiap malam, atau simbah dengan radionya yang setia menemani dari pagi hingga pagi lagi. Hal-hal seperti inilah yang tak akan ditemukan ditempat lain, meskipun mungkin di alami oleh setiap orang, namun hal tersebut terasa berbeda saat jarak tak bisa diajak berdamai.
***
Kamu hanya perlu beristirahat jika kamu lelah, hidup itu tidak harus berlari, sesekali kamu butuh berjalan, duduk, bersandar atau lari ditempat untuk bisa menikmati proses yang kamu sedang jalani. Karena benar.. seberapapun kita merasa dewasa, kita akan tetap menjadi adik kecil dimata mereka. Karena, family is where life begins and love never ends ♡

Komentar
Posting Komentar