"Kerja selama ini gaji kemana? Kok tabungan segitu-gitu aja?" "Banyak baju bukanya dikurangi malah beli lemari lagi, terus kalau rumah penuh dengan lemari gimana?" "Sampai kapan jadi bagian penyumbang sampah terbesar?" "Kapan mau jadi manusia yang bergunanya?" "Gak malu sama Tuhan?" Memilih hidup minimalis bukan tanpa alasan, ide pertama muncul saat otak mulai keruh, sejak saat itu mulailah mencari tahu tentang apa itu seni minimalism dan mulai berfikir untuk mencobanya, dan akhirnya tidak terasa kini sudah delapan bulan sejak memutuskan untuk merubah gaya hidup dan memilih untuk menjalani hidup minimalis. Esensi dari gaya hidup minimalis adalah meninggalkan sikap boros dan berlebihan untuk hidup yang lebih simpel namun berkualitas dan tentunya lebih happy. Seringnya berpindah tempat tinggal, jika diingat lagi diusia yang sudah 25 tahun ini terhitung sudah 8 kali berpindah rumah dari kota satu ke kota lain untuk melanjutkan pendidi...
Ada banyak hal yang saya dengar tentang penyesalan didunia ini, namun tak disangka saya sendirilah kini yang mengalami sebuah penyesalan itu. Dibeberapa bulan terkhir ini kenaifan saya akhirnya membuat saya terperdaya, menenggelamkan diri sendiri dalam sebuah penyesalan.
Saya berkeyakinan kuat bahwa jalan yang saya pilih sudah tepat, nyatanya malah keliru dan mengecewakan diri saya sendiri.
Saya sibuk mempersiapkan hari esok tetapi saya lupa dengan hari ini, saya sibuk mendengarkan orang lain, hingga saya lupa memahami diri saya sendiri. Hingga disatu titik saya sempat menyalahkan orang disekitar saya, Mencari kambing hitam untuk menanggung ini semua.
Hingga pada akhirnya rencana yang telah saya susun sebelumnya harus saya rubah dan menyusunnya kembali dengan susunan yang baru. Mengarungi malam hingga pagi dengan gelisah dan pilu, saya terdiam berpikir tentang cara agar kelak tak lagi saya temui sikap, cara, kebodohan saya yang mengecewakan ini. Karena kecewa adalah duka.
Malam yang suram dan pagi yang tak lagi menyejukan, hingga pada akhirnya sang pencipta membawa saya keluar dari pemahaman itu, menyalahkan orang lain atas apa yang saya alami itu adalah salah. Saya harus mengikhlaskan apa yang telah terjadi.
Hingga pada akhirnya rencana yang telah saya susun sebelumnya harus saya rubah dan menyusunnya kembali dengan susunan yang baru. Mengarungi malam hingga pagi dengan gelisah dan pilu, saya terdiam berpikir tentang cara agar kelak tak lagi saya temui sikap, cara, kebodohan saya yang mengecewakan ini. Karena kecewa adalah duka.
Malam yang suram dan pagi yang tak lagi menyejukan, hingga pada akhirnya sang pencipta membawa saya keluar dari pemahaman itu, menyalahkan orang lain atas apa yang saya alami itu adalah salah. Saya harus mengikhlaskan apa yang telah terjadi.
Apa yang saya sebut sebagai rasa sesal itu adalah sebagai pengingat, agar saya tidak pernah mengulangi segala hal yang tidak saya inginkan nantinya, bukan tentang "Andai penyesalan tidak pernah ada dan andai itu semua tidak pernah terjadi" tapi tentang bagaimana saya menjadikan sebuah penyesalan itu sendiri sebagai hikmah dari sebuah kejadian buruk, bukankah sejatinya kita sebagai manusia terlalu pintar untuk tidak mengulangi sebuah peristiwa buruk, bukankah saya ada untuk menjadikan masa depan lebih baik lagi, diam dan mengutuk rasa sesal tidak akan pernah merubah apapun, kebahagiaan adalah tentang keikhlasan.
Saya meyakinkan diri saya, bagaimanapun penyesalan adalah hal yang baik, jangan menyesal berlarut-larut karena waktu teramat lugu untuk disiksa dengan penyesalan.
Masa depan saya masih terbentang jauh didepan, menyerah sekarang hanya akan makin memperkeruh keadaan. Saya hanya perlu fokus untuk melakukan yang terbaik untuk saat ini, mengikhlaskan apa yang telah terjadi dan menatap kedepan dengan penuh keyakinan.
Komentar
Posting Komentar